Bagikan artikel ini :

Kesombongan Awal Kehancuran

Daniel 4:30-37

Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.
- Amsal 16:18

Selama delapan hari ke depan, kita akan merenungkan tujuh dosa yang mematikan (seven deadly sin) dan di hari kedelapan (renungan di tanggal 28 Januari) kita menutup perenungan dengan bagaimana cara mengatasinya.

Satu penyakit rohani yang seringkali tidak terlihat, tetapi memiliki dampak yang sangat mematikan adalah kesombongan. Seperti api kecil yang menyala di dalam hutan kering, kesombongan awalnya tampak sepele, tetapi pada waktunya akan melahap seluruh kehidupan kita. Kesombongan zaman sekarang, sering dibungkus dengan istilah seperti “selflove” atau “branding”, yang di dalamnya tersembunyi sikap meninggikan diri.

Ayat emas di atas mengajarkan bahwa kesombongan adalah akar dari banyak kehancuran dalam hidup manusia. Yesus menyoroti bahwa manusia yang meninggikan diri, yang merasa paling benar, paling kuat atau paling berhasil pada akhirnya akan mengalami kejatuhan (Luk. 14:11, Mat. 23:12) karena ia menempatkan diri di luar perlindungan dan hikmat Tuhan. Tuhan menentang orang yang tinggi hati karena kesombongan merampas kemuliaan-Nya dan menutup hati manusia terhadap koreksi, pertobatan, serta ketergantungan kepada-Nya. Ini adalah peringatan serius bahwa kejatuhan sering kali bukan datang tiba-tiba, tetapi dimulai dari hati yang meninggikan diri.

Perikop bacaan hari ini menceritakan bagaimana Raja Nebukadnezar menyombongkan diri atas kemegahan kerajaannya. Ia berkata, “Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?” (ay. 30). Akibat kesombongan Nebukadnezar, seketika itu juga Tuhan merendahkannya. Ia kehilangan akal sehat dan hidup seperti binatang di padang sampai ia mengakui kedaulatan Allah (ay. 32-33). Ketika Nebukadnezar kembali mengarahkan matanya kepada Tuhan dan mengakui kedaulatan-Nya, akal dan kerajaannya dipulihkan dan ia memuliakan Allah (ay. 34-37). Kesombongan membawa kehancuran, tetapi pertobatan dan pengakuan akan kedaulatan Tuhan membawa pemulihan.

Di tengah dunia yang mengagungkan pencapaian, status, dan kehebatan diri, renungan hari ini menjadi seruan keras agar kita berhati-hati karena kesombongan tidak hanya menjauhkan kita dari sesama, tetapi juga dari Tuhan. Mari bangun sikap rendah hati dan mengakui bahwa setiap pencapaian, kepandaian atau keberhasilan kita bukanlah hasil usaha pribadi, melainkan anugerah Tuhan. Jangan pula meremehkan orang lain, sebaliknya selalu bersedia dikoreksi dan terbuka terhadap masukan. Jagalah hati tetap melekat kepada Tuhan melalui doa, pembacaan firman, dan refleksi diri, agar kita tidak terperangkap dalam kesombongan rohani yang sering tidak kita sadari.


Refleksi Diri:

  • Apa kondisi yang cenderung membuat Anda merasa sombong atau terlalu percaya diri sehingga akhirnya membawa Anda ke dalam masalah atau kegagalan?
  • Bagaimana cara Anda melatih kerendahan hati dan menghindari sikap sombong yang berpotensi menghancurkan hidup Anda?