Bagikan artikel ini :

Iri Hati Sumber Kekacauan

Yakobus 3:13-18

Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.
- Yakobus 3:16

Saat menelusuri postingan Instagram, kita melihat teman liburan ke Eropa, makan di restoran bintang lima, membeli rumah. Hati kita berkata, “Mengapa bukan aku, Tuhan?” Tanpa disadari, iri hati tumbuh di balik layar yang memamerkan “kebahagiaan palsu”. Iri hati adalah ketidakmampuan bersukacita atas keberhasilan orang lain. Di era media sosial, iri hati tumbuh subur karena kita sering melihat hidup orang lain yang tampaknya lebih bahagia, lebih sukses, dan lebih diberkati.

Ayat emas mengingatkan bahwa akar dari banyak dosa dan kekacauan dalam kehidupan manusia adalah hati yang dikuasai oleh iri hati dan ambisi egois. Ketika manusia lebih mengutamakan kepentingan pribadi dari pada kehendak Allah dan kebaikan bersama, maka relasi akan rusak, komunitas menjadi kacau, dan hikmat dari Tuhan tidak berfungsi di dalamnya. Ini kontras dengan hikmat dari atas, yang digambarkan murni, pendamai, peramah, penurut, lemah lembut, dan penuh belas kasihan (ay. 17). Iri hati dan egoisme adalah tanda seseorang masih dipimpin oleh hikmat duniawi yang bersifat kedagingan (ay. 15), bukan oleh Roh Kudus. Rasul Paulus mengingatkan, “Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.” (Flp. 2:3).

Rasul Yakobus mengajar kita untuk senantiasa memeriksa motivasi hati dalam pelayanan, pekerjaan, maupun relasi. Apakah kita bertindak karena ingin dipuji dan ditinggikan atau karena ingin melayani dan memuliakan Tuhan? Misalnya, dalam sebuah komunitas pelayanan, jika seseorang merasa iri karena orang lain lebih menonjol atau dipilih menjadi pemimpin, lalu ia mulai menyebar gosip atau membentuk kubu maka kekacauan akan muncul. Sebaliknya, ketika seseorang memilih untuk bersukacita atas keberhasilan orang lain dan tetap fokus pada perannya dalam komunitas, damai sejahtera dan persatuan akan terpelihara.

Kita sebagai bagian dari tubuh Kristus (gereja), hendaklah menjauhkan iri hati dan ambisi pribadi yang akan merusak kesatuan dan tujuan bersama. Karena itu, syukurilah setiap berkat Tuhan yang kita dapatkan. Fokuslah pada panggilan dan musim hidup kita sendiri. Iri hati membutakan kita terhadap kasih karunia yang sudah kita terima.


Refleksi diri:

  • Apa situasi keseharian yang sering membuat Anda iri hati atau mementingkan diri sendiri? Bagaimana sikap itu memengaruhi hubungan Anda dengan orang lain?
  • Apa langkah konkret untuk mengendalikan iri hati dan egoisme diri agar hidup Anda lebih damai dan membawa kebaikan bagi lingkungan sekitar?