Iman Yang Mengasihi Di Tengah Dunia Yang Individualis
Yakobus 2:14-17; Matius 5:16
Saudara-saudara, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?
- Yakobus 2:14
Seorang profesional muda Kristen tinggal di sebuah apartemen mewah, bekerja di perusahaan besar, dan hadir di ibadah Minggu secara online karena kesibukan. Suatu malam, ia melihat seorang petugas kebersihan di gedungnya yang sedang makan nasi bungkus basi. Ia merasa iba, lalu berdoa dalam hati agar orang itu diberkati. Namun, ia tidak melakukan apa-apa. Apakah iman seperti itu benar-benar menyelamatkan? Doa tanpa empati yang aktif hanyalah ritual. Dalam konteks kota besar, kita mudah hidup dalam “gelembung kenyamanan” dan kehilangan kepekaan terhadap penderitaan orang-orang di sekitar.
Di era postmodern sekarang, banyak orang menilai iman sebagai hal pribadi, cukup “antara saya dengan Tuhan”. Namun, Rasul Yakobus dalam suratnya menantang kita untuk melihat iman secara konkret—iman yang terlihat dalam tindakan nyata, terutama kepada sesama yang membutuhkan. Ia memberikan ilustrasi sangat konkret: seseorang dalam kondisi kelaparan dan tanpa pakaian. Respons “doa tanpa tindakan” digambarkan sebagai kesia-siaan karena iman yang sejati pasti menghasilkan perbuatan.
Yakobus berbicara kepada komunitas Kristen Yahudi yang tersebar dan sedang bergumul dengan ketidakadilan sosial dan kesenjangan ekonomi. Ia menyuarakan kritik tajam terhadap iman yang tidak melahirkan kepedulian sosial. Yakobus bukan sedang menentang doktrin “dibenarkan oleh iman”, melainkan menegaskan bahwa iman sejati tidak bisa dipisahkan dari perbuatan nyata (bdk. Ef. 2:10). Iman tanpa perbuatan adalah mati (ay. 17) sehingga tidak ada gunanya memiliki iman yang demikian.
Era postmodern menekankan spiritualitas pribadi dan subjektif. Namun, Yakobus mengingatkan bahwa iman harus inkarnatif—terwujud dalam dunia nyata. Hidupkan iman lewat tindakan kasih kepada yang termarginalkan, seperti supir ojol, lansia terlantar, anak jalanan, pemulung sampah, dan sebagainya. Iman sejati mendorong kita turun tangan, bukan hanya berdoa dari jauh. Bergereja bukan hanya hadir di ibadah, tetapi hadir dalam kebutuhan sesama. Gereja harus menjadi komunitas yang beraksi. Jika ada anggota jemaat yang kekurangan, bagaimana kita merespons mereka?
Iman sejati tidak hanya diucapkan, tetapi dihidupi. Iman yang nyata—yang terwujud melalui tindakan kasih—adalah kesaksian paling kuat di zaman ini. Hiduplah bukan hanya sebagai pendengar firman, tetapi sebagai pelaku karena iman yang hidup akan selalu tampak dari tindakan kasih.
Refleksi Diri:
- Siapa orang di sekitar Anda yang sedang membutuhkan pertolongan nyata yang selama ini hanya Anda responi dengan doa saja (kata-kata tanpa tindakan)?
- Jika orang lain menilai iman Anda dari tindakan Anda minggu ini, apakah mereka akan melihat iman yang hidup atau iman yang mati?
