Bagikan artikel ini :

Iman Yang Membangun Komunitas

Kisah Para Rasul 2:41-47

Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.
- Kisah Para Rasul 2:42

Kota besar adalah tempat banyak orang mengejar ambisi, terkoneksi secara digital, tetapi kesepian secara emosional. Biarpun demikian, seorang anak muda perantauan menemukan kekuatan dan pengharapan melalui komunitas kecil atau care group di gerejanya. Sebuah komunitas dari berbagai latar belakang, yakni profesional muda, pekerja harian, pelajar, dan ibu rumah tangga. Mereka berkumpul bukan karena kesamaan status sosial, tetapi karena kesamaan iman di dalam Kristus.

Kisah Para Rasul 2 adalah titik balik besar dalam sejarah gereja, yaitu hari Pentakosta, saat Roh Kudus dicurahkan atas para murid. Sekitar tiga ribu orang bertobat dan dibaptis pada hari tersebut (ay. 41). Peristiwa ini adalah kelahiran gereja yang pertama. Yerusalem saat itu adalah pusat keagamaan dan sosial bagi bangsa Yahudi. Kota ini dipenuhi oleh peziarah dari berbagai daerah karena perayaan Pentakosta. Masyarakatnya religius, tetapi juga sangat hierarkis dan legalistik. Gereja mula-mula lahir di tengah sistem sosial yang tidak memberi tempat bagi komunitas baru dengan nilai-nilai kesetaraan, keterbukaan, dan pembaruan spiritual.

Namun, pencurahan Roh Kudus memunculkan gaya hidup baru, yakni persekutuan, pengajaran, kasih, dan kesatuan. Karya Roh Kudus menghasilkan buah yang nyata dalam kehidupan berkomunitas, bukan sekadar pengalaman rohani pribadi. Jemaat mula-mula fokus membangun kehidupan yang saling mendukung. Mereka belajar firman bersama, berdoa bersama, saling berbagi makanan dan kebutuhan, membantu yang sedang jatuh, dan merayakan sukacita dengan tulus (ay. 42-47). Di tengah kota yang individualistis, komunitas ini menjadi semacam “desa rohani” yang menghidupkan iman dan kasih.

Dalam budaya urban yang menekankan privasi dan kecepatan, gaya hidup bersama yang saling peduli menjadi daya tarik bagi jiwa-jiwa yang terhilang. Komunitas Kristen yang bersedia berbagi waktu dan hidup, bisa menjadi terang di tengah lingkungan ini. Saat ini, banyak orang di kota besar merasa “sendirian dalam keramaian”. Komunitas gereja bisa menjawab kebutuhan terdalam manusia untuk diterima dan dikasihi. Kiranya iman kita bertumbuh bukan hanya tentang doktrin, tetapi tindakan nyata: memberi, menolong, dan hidup adil di tengah ketimpangan kota. Kesaksian hidup kita hendaklah menjadi pintu masuk bagi Injil di tengah kota besar dan memenangkan banyak jiwa bagi Kristus.


Refleksi diri:

  • Apakah Anda hidup dalam persekutuan yang saling membangun seperti jemaat mula-mula ataukah masih menjalani iman secara individualistis?
  • Apa tindakan nyata yang bisa Anda lakukan untuk mewujudkan kasih dan kepedulian seperti jemaat mula-mula, di tengah kehidupan kota yang sibuk dan kompetitif?