Dari Peringatan Menjadi Penghayatan
1 Korintus 11:23-28
Dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”. Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”
- 1 Korintus 11:24-25
Pernahkah Anda melihat Tugu Pahlawan di Surabaya? Apa yang terlintas dalam pikiran Anda ketika melihat tugu tersebut? Ya, seharusnya ketika melihat tugu tersebut kita akan teringat perjuangan para pahlawan nasional yang rela berkorban demi mempertahankan kemerdekaan RI yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Tugu pahlawan adalah lambang perjuangan arek-arek Suroboyo melawan Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia pada 10 November 1945. Tugu Pahlawan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia karena di balik tugu tersebut ada rakyat yang mau berkorban bagi bangsa demi kemerdekaan Indonesia.
Roti dan anggur adalah lambang tubuh dan darah Kristus yang diserahkan untuk menjadi korban penebusan manusia yang berdosa. Manusia seharusnya binasa karena murka Allah atas dosa manusia, tetapi karena Kristus Yesus rela naik ke salib, mengorbankan tubuh-Nya untuk disiksa dan dianiaya, serta mencurahkan darah-Nya, maka Dia telah menjadi penebus manusia yang berdosa. Karena itu, Perjamuan Kudus hendaklah menjadi peringatan bahwa kita diselamatkan bukan karena usaha dan kebaikan kita, melainkan karena ada satu Sosok yang telah berkorban menggantikan kita menerima hukuman, yaitu Yesus Kristus. Perjamuan Kudus mengingatkan kita semua bahwa tubuh Kristus yang dilambangkan dengan roti adalah korban keselamatan bagi kita, dan darah-Nya yang dilambangkan dengan anggur adalah lambang perjanjian pendamaian antara Allah dan kita.
Perjamuan Kudus tidak cukup hanya sebagai peringatan di masa lalu. Ia juga adalah masa sekarang dan masa akan datang. Datanglah ke Perjamuan Kudus dengan benar-benar menghayati kasih Kristus bagi kita umat berdosa sehingga kita pun harus mengambil komitmen untuk sungguh-sungguh mengasihi Kristus di dalam kehidupan kita. Janganlah kita mengecewakan Kristus Yesus dengan hidup terus di dalam dosa dan kejahatan. Mari kita membuktikan bahwa kita telah ditebus oleh darah-Nya yang mahal dengan hidup berbuah dan menjadi berkat di mana pun kita berada. Jangan biarkan Perjamuan Kudus hanya menjadi sekadar peringatan, tetapi hayati terus di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Refleksi Diri:
- Bagaimana Anda memaknai Perjamuan Kudus selama ini? Apakah sebagai peringatan atas karya keselamatan yang Kristus telah lakukan bagi Anda atau sekadar rutinitas kegiatan agamawi?
- Apa bentuk penghayatan dari Perjamuan Kudus dalam keseharian sebagai wujud nyata kasih Anda kepada Kristus yang telah menebus Anda?
