Bangkit Dari Kemalasan
Amsal 6:6-11
Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, ... maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, …
- Amsal 6:10a, 11a
Kita semua pasti menginginkan hidup yang penuh berkat, sukses, dan damai. Namun, tahukah kita bahwa di balik keberhasilan, ada satu musuh yang tanpa disadari sering merusak mimpi kita? Musuh itu adalah kemalasan.
Amsal 6:6-11 mengingatkan kita dengan tegas bahwa sedikit tidur, sedikit mengantuk, dan sedikit bermalas-malasan bukan hal sepele. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini bisa membawa kita pada kemiskinan dan kesulitan yang datang seperti pencuri di malam hari. Hari ini, kita akan belajar bagaimana menjaga semangat dan disiplin agar hidup tidak hancur karena hal-hal yang tampaknya kecil, tetapi kenyataannya sangat berbahaya. Secara teologis, perikop ini menyampaikan prinsip bahwa kemalasan adalah dosa yang tidak hanya merusak secara pribadi, tetapi juga melawan tatanan Ilahi. Tuhan menciptakan manusia untuk bekerja (Kej. 2:15) dan kerja merupakan bagian dari panggilan hidup yang memuliakan Allah. Kemalasan atau sikap menunda-nunda dan menghindari tanggung jawab, membuka jalan bagi kehancuran, baik secara jasmani maupun rohani. Ini bukan hanya soal pekerjaan fisik, tetapi juga menyangkut kedisiplinan dalam menjalani kehidupan iman, pelayanan dan pertumbuhan karakter.
Dalam dunia yang menawarkan kenyamanan instan dan hiburan tanpa batas, godaan untuk bersantai secara berlebihan sangatlah besar. Amsal 13:4 mengingatkan, “Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan.” Ayat ini adalah panggilan untuk hidup rajin, bertanggung jawab, dan disiplin dalam segala hal yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Seperti ladang yang dibiarkan tanpa ditanami dan dirawat akan ditumbuhi semak belukar, demikian juga hidup orang yang tidak mau berjerih payah akan dipenuhi kekacauan dan kekurangan.
Secara praktis, penting bagi kita membangun kebiasaan bangun pagi, menyelesaikan tugas dengan sungguh-sungguh, melayani dengan setia, dan tidak menunda-nunda tanggung jawab, sebagai bentuk kesetiaan kepada Tuhan yang memberi waktu dan kesempatan dalam hidup ini. Banyak orang yang sibuk, tetapi tidak pernah menyediakan waktu untuk berdoa, membaca firman atau pelayanan. Kemalasan zaman modern ini bukanlah tidak bekerja, tetapi tidak mengarahkan hidup pada hal-hal yang kekal. Jangan biarkan kesibukan menggantikan kerajinan rohani. Rajinlah beribadah, berdoa, dan melayani. Gunakan waktu dengan bijak.
Refleksi diri:
- Apakah Anda sering menunda pekerjaan atau malas melakukan tanggung jawab Anda sehingga berisiko mengalami kerugian atau kesulitan di masa depan?
- Bagaimana Anda bisa membangun kebiasaan disiplin dan rajin dalam kehidupan sehari-hari agar tidak terjerumus ke dalam kemalasan yang membawa kehancuran?
